Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com
Teknik Penggunaan Mesin Tetas Secara Sederhana PDF Cetak E-mail
Oleh Susanto, S.ST   
Kamis, 01 Agustus 2013 10:42

Penetasan adalah usaha untuk menghasilkan anak ayam (DOC) atau unggas lain dengan berbagai macam pengeraman. Pada prinsipnya penetasan telur dengan menggunakan mesin tetas sama dengan induk ayam atau unggas yang sesungguhnya.

Pengeraman adalah insting dari setiap unggas, namun ada beberapa unggas yang memang tidak mampu mengerami telurnya secara alami. Penetasan telur menggunakan mesin tetas ini bertujuan untuk menetaskan anak ayam/unggas dalam jumlah besar. Penggunaan mesin tetas juga dapat dilakukan sewaktu-waktu sesuai dengan keinginan. 

Penggunaan Mesin Tetas Sederhana

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengontrol kondisi mesin tetas, terutama ketentuan sesuai dengan merk maupun modelnya. Penggunaan mesin tetas sederhana dilakukan melalui beberapa tahapan kegiatan berikut:

a. Membersihkan mesin tetas

  • Peralatan termometer, laci telur dan bak air dikeluarkan dari mesin kemudian cuci hingga bersih. Selanjutnya, peralatan tersebut dicelupkan kedalam larutan desinfektan (Biocid, Antisep, Biodan dll).
  • Bagian dalam dan luar mesin juga dibersihkan dan diberi perlakuan desinfektan.
  • Lakukan penjemuran untuk mengeringkan dan membunuh kuman.
  • Setelah kering kembalikan ke ruangan dan pasang kembali peralatan sesuai posisi semula
  • Kuman kemungkinan masih ada disela-sela mesin, sehingga perlu dilakukan fumigasi dengan uap beracun  menggunakan KMnO4 dan formalin 40%. Ruangan dalam mesin seluas 1 m3 membutuhkan  KMnO4 6 gram dan formalin 40% 12 – 15 ml
  • Fumigasi dilakukan dengan cara meletakkan KMnO4 dalam cawan di dalam mesin tetas, kemudian tuang formalin 40% dan pintu mesin segera ditutup. 

b. Memanaskan ruangan dalam mesin

Hidupkan aliran listrik, biarkan beberapa saat dan amati temperatur dalam mesin sampai mencapai 101°F (38,5°C), setelah itu aliran listrik segera diputus. Pengukuran temperatur menggunakan alat yang disebut Thermoregulator. Jika selama 24 jam temperatur sudah stabil, maka telur segera dimasukkan.

c. Menempatkan telur dalam mesin

Telur diletakkan mendatar di atas laci telur, tetapi lebih tepat diletakkan dengan posisi miring (± 45°) dengan ujung tumpul diatas. Meletakkan telur dengan cara ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu (a) perkembangan embrio dengan posisi kepala di ujung tumpul lebih besar, dan (b) lebih banyak telur yang dapat masuk dibanding posisi mendatar. 

d. Mempertahankan panas dalam mesin

Setelah seluruh telur dimasukan kedalam mesin, letakkan termometer agak ke tengah dengan tinggi 1 – 1,5 cm di atas hamparan telur. Selanjutnya pintu mesin ditutup dan jangan dibuka selama 2 – 3 hari berikutnya. Telur mulai di balik setelah 3 – 4 hari pengeraman. Amati terus suhu dalam mesin dan pertahankan suhu antara 101°F - 103°F, yaitu minggu ke-1 suhu ± 101,5°F (101 - 102°F), Minggu ke-2 dan ke-3 suhu ± 102,5°F (102 - 103°F). Pengamatan dan pencatatan suhu dilakukan 3 kali dalam satu hari.

e. Mengatur ventilasi

Pada awal masuknya telur ke mesin tetas ventilasi harus dalam kondisi tertutup, pengaturan ventilasi dilakukan mulai hari ke 3 atau 4 dengan cara membuka ventilasi  ± 1/3 bagian, pada hari ke 6 dibuka ± 2/3 bagian, setelah hari 9 atau 10 ventilasi dibuka seluruhnya, dan tidak perlu ditutup lagi sampai menetas. Menurut penelitian, selama pengeraman udara dalam mesin mengandung ± 0,5% CO2 dan 21% O2.

f. Membalik dan mendinginkan telur

Agar telur memperoleh panas yang merata dan menjaga agar bibit tidak menempel pada kulit telur pada permulaan pengeraman, serta mencegah lekatnya kuning telur dengan tenunan selaput pembungkus anak (allantois) pada fase-fase berikutnya, maka dilakukan:

  • Pembalikan telur mulai hari ke 3 atau 4 sampai 3 hari sebelum menetas,
  • Setiap hari dilakukan pembalikan sebanyak 3 kali, untuk memudahkan mengingat telur perlu diberi tanda di kedua sisinya
  • Pendinginan dilakukan 1 kali setiap hari selama 5 – 15 menit

g. Memeriksa telur yang sedang ditetaskan (candling)

Pemeriksaan penting dilakukan untuk mengetahui telur mana yang bertunas (fertil) dan tidak bertunas (non fertil), telur kosong atau telur mati bibitnya. Pemeriksaan dilakukan di ruangan yang gelap menggunakan lampu candling dan dilakukan 3 kali, yaitu pada hari ke- 6, hari ke 14 dan hari ke 18. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan pertama :

  • Telur kosong (tidak bertunas) yaitu jika tidak terlihat apa-apa, telur terlihat jernih dan terang.
  • Telur hidup (bertunas) yaitu jika tampak sebuah titik (yang bergerak) dengan cabang-cabang halus, yang merupakan permulaan urat darah.
  • Telur bibit mati, jika tampak sebuah titik, segaris warna merah.

h. Mengatur kelembaban udara

Kelembaban diukur dengan Hygrometer. Pada awal pengeraman kadar kelembaban sekitar 60% dan semakin naik hingga akhir pengeraman menjadi 70%. Pada saat akan menetas diperlukan kelembaban yang lebih tinggi, oleh karena itu air dalam mesin tetas jangan sampai kering.

i. Menurunkan anak ayam dari mesin

Perlu diperhatikan agar pintu tidak sering dibuka menjelang telur mulai retak, dan sebaiknya biarkan menetas sendiri. Kelembaban perlu dijaga dengan mempertahankan air jangan sampai habis. Setelah menetas anak ayam/unggas tetap dibiarkan dalam mesin ± 2 jam, baru bisa dipindahkan ke kandang indukan.

(admin - AGH)

LAST_UPDATED2
 
Joomla Templates by JoomlaVision.com