JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

Mengenal Eco Enzyme

Kegiatan sehari-hari manusia tak lepas dari limbah atau sampah yang dihasilkan.  Sejalan dengan laju pertumbuhan penduduk dan juga meningkatnya pola konsumsi masyarakat, maka  produksi sampah akan terus meningkat. Jumlah serta jenis sampah sangat tergantung dari gaya hidup dan jenis material yang kita konsumsi. Meningkatnya perekonomian dalam rumah tangga maka akan semakin bervariasi jenis maupun jumlah sampah yang dihasilkan.  UU No 18 Tahun 2008 menyebutkan bahwa definisi sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat, sedangkan pengelolaam sampah merupakan kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah.

Berdasarkan data Statistik LHI 2018 yang dirilis oleh BPS, hanya 1,2% rumah tangga yang mendaur ulang sampahnya.  Sekitar 66,8% rumah tangga menangani sampah dengan cara dibakat, padahal hasil dari pembakaran ini dapat menimbulkan polusi udara serta mengganggu kesehatan.  Sampah organik yang menumpuk di TPA melalui proses pembusukan anaerob akan menghasilkan gas metana, yang dapat menimbulkan efek rumah kaca serta memiliki kemampuan menangkap panas 30 kali lebih efektif dibandingkan karbondioksida.  Gas metana ini pun memiliki dampak buruk untuk kesehatan pernafasan masyarakat karena mengurangi komposisi okigen di udara, padahal limbah sampah rumah tangga tersebut dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat yaitu eco enzyme.

Apa itu Eco Enzyme ?

Eco enzyme merupakan cairan multifungsi yang dihasilkan dari proses fermentasi  selama minimal 3 bulan dengan bahan sederhana, antara lain gula merah/tetes tebu, limbah atau sampah organik, dan air dengan perbandingan 1:3:10.  Hasil akhirnya berupa cairan berwarna kecoklatan dengan aroma asam segar. Warna Eco enzyme bervariasi dari coklat muda hingga coklat tua, tergantung pada jenis sisa buah/sayuran dan jenis gula yang digunakan. Eco enzyme dapat diaplikasikan untuk kepentingan rumah tangga misal sebagai desinfektan, pertanian sebagai pupuk alami serta pestisida, dan juga peternakan.  Namun, meski termasuk ramah lingkungan, eco enzime tidak untuk dikonsumsi.

Eco enzyme pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Rosukon Poompanvong yang merupakan pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand.  Gagasannya adalah untuk mengolah enzim dari sampah organik yang biasanya kita buang menjadi pembersih organik. Penelitiannya terkait enzim sudah dilakukan sejak tahun 1981.  Kemudian Eco enzyme diperkenalkan secara lebih luas oleh Dr. Joean Oon seorang peneliti Naturopathy dari Penang, Malaysia (Sumber : Eco Enzyme Nusantara).

Pembuatan eco enzyme sendiri dapat memberikan dampak yang luas bagi lingkungan secara global, maupun ditinjau dari segi ekonomi.  Manfaat untuk lingkungan dapat dijabarkan sebagai berikut. Selama proses fermentasi berlangsung campuran bahan-bahan pembuat eco enzyme akan menghasilkan O3 yang biasa juga dikenal sebagai ozon.  Ozon akan bekerja dibawah lapisan stratosfer untuk mengurangi efek gas rumah kaca dan logam berat yang terkurung di atmosfer.  Selain O3, juga dihasilkan gas NO3 dan CO3 yang dibutuhkan oleh tanah sebagai nutrisi untuk tanaman.

Bagaimana membuat eco enzyme ?

Melihat perbandingan atau rumus yang telah disebutkan sebelumnya maka bahan-bahan yang diperlukan antara lain 1 bagian gula atau molase (Kg atau g), 3 bagian bahan organik yang berasal dari sisa sayur dan kulit buah (Kg atau g), dan 10 bagian air (liter atau ml).  Wadah yang dipergunakan untuk membuat eco enzyme sebaiknya berbahan plastik dan memiliki tutup bermulut lebar, dan ukurannya disesuaikan dengan jumlah bahan yang digunakan. Volume maksimal air diupayakan menempati 60% volume wadah.  Beberapa jenis wadah yang tidak disarankan untuk digunakan yaitu wadah dari bahan logam karena mudah karatan, wadah dari bahan kaca karena rentan pecah, serta wadah bermulut sempit karena pada proses fermentasi akan dihasilkan gas dan memiliki tekanan yang rentan untuk meledak.

Air yang digunakan dalam proses pembuatan ezoenzyme dapat bersumber dari air hujan yang ditampung langsung (bukan melalui genteng dan pipa) dan sebaiknya diendapkan minimal 24 jam, air sumur, air buangan AC, air galon, air isi ulang dan air pam yang didiamkan selama minimal 24 jam agar kaporit mengendap terlebih dahulu.  Beberapa jenis gula yang bisa digunakan yaitu molase, gula merah tebu, gula aren, gula kelapa, dan gula lontar. Sedangkan gula pasir tidak dapat digunakan. Untuk bahan organik, semua sisa buah/sayuran dapat digunakan untuk membuat eco enzyme, kecuali sisa sayur yang telah dimasak, sayur/buah yang busuk/berulat/berjamur, bahan organik mengandung minyak  seperti kelapa dan ampasnya, dan bahan kering atau keras seperti kayu. Semakin banyak jenis bahan organik yang digunakan maka semakin kaya hasil eco enzyme yang dihasilkan.

Langkah pembuatan :

-          Bersihkan wadah dari sisa sabun atau bahan kimia. Ukur volume wadah. Masukkan air bersih sesuai takaran (maksimum 60% dari volume wadah). Misal wadah yang digunakan kapasitas 10 L maka air yang digunakan maksimum 6 L atau 6000 ml setara dengan 6 Kg

-          Masukan gula sesuai takaran, aduk rata. Misal air yang digunakan 6000 maka gula yang dipakai 600 gram atau 10% dari berat air.

-          Masukan potongan sisa buah dan sayuran. Jika air yang digunakan 6 L maka bahan organik yang dipakai sekitar 1800 g atau 30% dari berat air.

-          Tutup rapat sampai panen. Beri label, tanggal pembuatan dan tanggal panen. Tidak ada keharusan buka dan aduk, serta meremas bahan organik.

-          Untuk menghindari kontaminasi tempatkan wadah larutan fermentasi pada tempat yang tidak terkena sinar matahari langsung, memiliki sirkulasi udara yang baik, dan jauh dari tempat pembuangan sampah atau pembakaran sampah serta bahan-bahan kimia.

-          Simpan selama 3 bulan. Dan setelah itu eco enzyme siap dipanen.  Ada kemungkinan dipermukaan muncul jamur putih halus, jamur bisa dipisahkandan dimanfaatkan.  Eco enzyme bisa dipanen dengan cara disaring dan disimpan dalam wadah tertutup.  Eco enyme yang telah dipanen ini tidak memiliki kadaluarsa.

-          Eco enzyme yang telah dipanen dapat dikemas dalam botol kaca atau plastik bertutup rapat.  Disarankan eco enzyme dikemas dalam botol-botol berukuran kecil agar lebih praktis dan menjaga kualitas.

Aplikasi Eco Enzyme

Sesuai manfaatnya misal pada pertanian, eco enzyme dapat digunakan untuk pemupukan serta pestisida.  Takaran eco enzyme yaitu pada perbandingan 1 ml eco enzyme dilarutkan dalam 1 L air. Untuk penggunaan sebagai pupuk dapat langsung diaplikasikan di tanah, sedangkan untuk pestisida dapat langsung diaplikasikan di tempat yang terkena hama. Manfaat yang lain eco enzyme dapat memperbaiki kualitas udara sehingga udara menjadi lebih segar, bersih, serta menghilangkan asap dan bau.  Cara pengaplikasiannya disemprotkan ke udara dengan perbandingan eco enzyme 1 ml dilarutkan dalam 1 Liter air.

Pemanfaatan limbah untuk diolah menjadi eco enzyme merupakan salah satu cara pengelolaan sampah menjadi lebih bermanfaat. Partisipasi masyarakat dapat dimulai dari lingkup yang paling kecil yaitu rumah tangga, sehingga manfaat dari pengelolaan sampah yang berupa eco enzyme ini juga dapat di rasakan oleh keluarga.

Disarikan dari berbagai sumber.

Pin It