JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

MENGENAL GLUTEN

Semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan kesehatan, berpengaruh pula terhadap pemilihan bahan pangan yang menurut mereka mendukung terhadap kesehatan.  Salah satunya adalah bahan pangan dan produk pangan dengan label Low Gluten atau bahkan Gluten Free.  Sebenarnya apa itu gluten ?

Gluten merupakan campuran antara dua jenis protein gandum, yaitu glutenin dan gliadin.  Glutenin memberikan sifat-sifat yang tegar dan gliadin memberikan sifat yang lengket sehingga mampu memerangkap gas yang terbentuk selama proses pengembangan adonan dan membentuk struktur remah produk.  Jadi secara sederhana dapat dikatakan sifat dari gluten ini adalah kenyal dan elastis.  Gluten hanya terdapat pada tepung terigu (tepung gandum), dan protein dari gluten ini sangat penting dan diperlukan dalam pembuatan jenis bakery (rerotian) agar produk dapat mengembang dengan baik, atau pada pembuatan mie supaya mie menjadi kenyal.  Gluten akan terbentuk lebih sempurna apabila waktu umur tepung minimal 7 hari setelah digiling dan diberikan energi (proses aduk).  Banyak sedikitnya gluten yang didapat, tergantung dari berapa banyak jumlah protein dalam tepung itu sendiri, semakin tinggi proteinnya maka semakin banyak juga jumlah gluten yang diperoleh.

Bagaimana kaitan gluten dengan kesehatan? Sebenarnya tidak semua orang bisa mengkonsumsi makanan yang mengandung gluten, yaitu para penderita gluten intolerance atau celiac disease (penyakit siliak) dan autis.  Penyakit siliak adalah penyakit alergen yang mengakibatkan peradangan atau inflamasi pada saluran pencernaan bagian bawah ketika mengkonsumsi gluten.  Penderita gluten intolerance tidak dapat menyerap zat-zat gizi dari produk yang mengandung gluten akibat malfungsi sistem pencernaan.  Keberadaan gluten dapat menyebabkan sistem imun memproduksi antibodi untuk melawan gluten sehingga terjadi kerusakan sel epitelium pada usus halus.  Sedangkan pada penderita autis, kombinasi asam amino yang ada didalam gluten tidak dapat dipecah menjadi asam amino tunggal oleh sitem pencernaannya, tetapi masih dalam bentuk peptida.  Peptida yang tidak tercerna tersebut dapat diserap oleh usus halus yang selanjutnya masuk kedalam peredaran darah dan diteruskan ke reseptor opioid otak.  Peningkatan aktivitas opioid akan menyebabkan gangguan susunan saraf pusat dan dapat menyebabkan efek kuat pada perilaku seperti contohnya mengantuk, tidak memiliki perhatian atau bengong, dan memiliki perilaku agresif.  Bentuk potensial lain yang ditemukan oleh ilmuwan terhadap intoleransi gluten ini disebut sensitivitas gluten non celiac (NCGS), dimana setelah mengkonsumsi gluten, penderita mungkin mengalami banyak gelaja penyakit celiak, seperti diare, kelelalahan, dan nyeri sendi tetapi usus tampaknya tidak rusak.  Untuk para penderita intolerance gluten, biasanya direkomendasikan oleh ahli kesehatan untuk menjalani diet bebas gluten, dimana penderita harus menghindari makan makanan dan bahan yang mengandung gluten.  FDA AS mensyaratkan, produk makanan yang mengandung kurang dari 20 ppm gluten dapat diberi label sebagai produk Gluten Free.

Poduk makanan dengan label low gluten atau gluten free berdasarkan para ahli gizi dapat mempengaruhi tubuh dalam banyak hal, terutama pada orang yang menjalani diet bebas gluten namun tidak memiliki diagnosis penyakit celiac.  Misalnya dapat mempengaruhi penurunan berat badan. Namun dibeberapa sisi dapat juga menjadi boomerang jika mengkonsumsi makanan bebas gluten yang “lebih sehat” justru malah menyebabkan penambahan berat badan.  Hal ini disebabkan biasanya produsen makanan seringkali memasukkan lemak atau gula tambahan untuk membuat produk gluten free lebih enak, sehingga meningkatkan jumlah kalori produk.  Oleh sebab itu jika masyarakat memang berkeinginan menjalani diet bebas gluten, maka harus dilakukan dengan bijak dan hati-hati, agar tujuan dapat tercapai dengan baik bukan sebaliknya (sl).

Pin It