JS NewsPlus - шаблон joomla Продвижение

AMONIASI JERAMI Teknologi Alternatif Dalam Penyediaan Pakan Sapi

Kelompok Budidaya gotong royong membuat amoniasi jeramiDalam suasana sore yang cerah, tepatnya hari Selasa 17 September 2019 terlihat sekelompok peternak sapi di Desa Pulau Sari, Kec. Tambang Ulang, Kab. Tanah Laut sedang menghampar jerami padi di atas lantai yang dialasi terpal. Setiap tumpukan jerami setinggi sekitar 30 cm, dipercikkan larutan urea secara merata. Kemudian jerami dihamparkan kembali di atasnya, lalu larutan urea pun kembali dipercikkan secara merata. Begitulah seterusnya sampai jerami sebanyak sekitar satu ton habis terolah. Langkah terakhir yang mereka lakukan adalah menutup rapat tumpukan jerami tersebut dengan terpal.

Usut punya usut, ternyata para peternak di Desa Pulau Sari sedang membuat amoniasi jerami di kandang kelompok dengan dipandu oleh peneliti BPTP Kalimantan Selatan dan dosen Prodi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru. Pembuatan amoniasi jerami ini juga dibantu oleh mahasiswa Prodi Peternakan Faperta ULM. Peternak Desa Pulau Sari sangat sadar, mereka sulit mendapatkan rumput saat musim kemarau untuk mencukupi kebutuhan pakan ternak sapi yang mereka pelihara. Kondisi ini diperparah lagi dengan adanya perluasan areal lahan untuk tanaman pangan dan perkebunan sehingga areal untuk budidaya rumput unggul semakin menyempit. Salah satu alternatif pemecahannya adalah melalui optimalisasi pemanfaatan limbah tanaman pangan.
Potensi produksi bahan kering jerami padi mencapai 2,00 - 2,25 ton per ha setiap panen, namun jerami padi dan limbah pertanian ini mempunyai beberapa kelemahan ketika dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Jerami dan limbah pertanian lainnya memiliki nilai protein kasar (PK) yang rendah dan prosentase serat kasar (SK) yang tinggi. Selain itu kadar ligninnya telah berkembang melindungi selulosa dan hemiselulosa secara kuat sehingga total digestible nutrient (TDN) atau tingkat kecernaan relatif rendah . Jerami padi mengandung PK 3,45%, SK 33,02%, dan TDN 38,59%.

Amoniasi jerami merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas jerami (PK,SK,TDN) sebagai pakan sapi dengan penambahan urea 2-5% dari berat kering jerami. Bahan kimia yang terdapat dalam urea mampu memecah lignin dan silikat dalam jerami padi sehingga selulosa dan hemiselulosanya dapat dibebaskan dan diserap oleh saluran pencernaan sapi. Di samping itu, urea juga berfungsi mensuplai unsur nitrogen (NPN) sebagai bahan baku sintesis protein di dalam tubuh.
Kadar air yang baik untuk amoniasi jerami adalah 40-60% dari total bahan yang dibuat. Bahan yang diperlukan dalam membuat amoniasi jerami antara lain jerami 1 ton, urea 5 kg, air 500 liter. Alat yang diperlukan meliputi timbangan untuk membantu mengestimasi berat jerami, terpal untuk menutup jerami, ember untuk melarutkan urea dan sprayer untuk menyemprotkan larutan urea ke dalam jerami. Amoniasi jerami akan siap digunakan dan diberikan kepada ternak setelah diperam selama 1 minggu. Sebaiknya sebelum diberikan kepada ternak jerami hasil amoniasi ini diangin-anginkan terlebih dahulu.
Penelitian menunjukkan bahwa teknologi amoniasi jerami terbukti dapat meningkatkan kualitas jerami, diantaranya PK meningkat dari 3,45% menjadi 6,66%, TDN meningkat dari 38,59% menjadi 46,37%.

Hasil amoniasi jerami direkomendasikan untuk diberikan kepada sapi muda dan dewasa sebagai pakan sumber serat. Amoniasi tidak direkomendasikan untuk sapi pedet terutama yang masih menyusu dikarenakan rumen dalam saluran pencernaan belum berkembang sempurna. Kelemahan amoniasi jerami yang lain adalah miskin vitamin A. Pemberian amoniasi jerami tanpa tambahan konsentrat atau bahan makanan yang mengandung vitamin A dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan mata sapi. Untuk itu sebaiknya pemberian amoniasi jerami harus dibarengi pemberian pakan tambahan atau hijauan yang mengandung vitamin A.

 

Kontributor Naskah: Sholih Hadi, S.ST.,M.Sc

Pin It